Narasiku Tentang Prabowo Vs Jokowi, Pemilu 2019

Anjrahweb.Com – Pada bertanya, apa urusannya mas Anjrah yang seorang Pebisnis Online kok ikut ikutan ngeshare bab Prabowo Vs Jokowi di Pemilu 2019 Ini? Di timeline facebook, di IGnya di Twitternya.

Woke, jawaban secara jamak, ku tulis dalam: Inilah Narasiku.

Sebenarnya tulisan ini saya posting di facebook personalku, Pada Senin, 27 Mei 2019, Pukul 05.10-an. Tulisan agak panjang, saya tulis santai, ya semoga bisa menjawab ya.

Narasiku Tentang Prabowo Vs Jokowi di Pemilu 2019

Mas Anjrah Kok Akhir Akhir ini Semangat Banget Share Berita Tentang ‘Kejelekan Pemerintah’, Blm Legowo Prabowo kalah Ya?

No.

Dirimu salah banget.

Mengapa aku turut bersuara, beberapa alasan yang detik ini aku rasakan, ya prinsip karena aku peduli dengan nasib masa depan bangsa ini kedepannya. Juga gimana nanti nasib anak cucu kita ketika besar nantinya.

Boleh dong, biar generasi millennial bersikap idealis dan fokus memberi ‘sesuatu kontribusi’ buat bangsa dan agamanya?

Walau ya kapasitasnya kueciiilll banget cuma status status di fb dan ngeshare ngeshare doang.

prabowo vs jokowi, pemilu 2019 alasan memilih prabowo

Niatnya lillah, cari ridho Allah. Nggak dibayar saya.

Dan rinciannya..

1. Kalaulah kita memaklumi kecurangan, sama aja artinya kita juga melegimitasi bahwa curang itu boleh dan biasa. Padahal curang tetaplah curang, sikap pecundang yang tak elok dimiliki siapapun.

2. Jujur perlu ditanamkan agar jadi kepribadian bangsa. saya mendukung hal itu. Bayangkan kalau tidak jujur itu jadi ‘biasa’ dibangsa ini. Mau jadi apa kedepannya?

3. Apa karena ingin maksa prabowo jadi presiden? Bagiku soal lain. Saya pribadi aslinya juga tidak 100% cocok dengan prabowo.

Apa alasan tidak cocok? Prabowo ikut kontes jadi pilpress beberapa kali, tidak ada perubahan signifikan dalam dia berkampanye, narasinya, bahkan dari bagaimana dia harusnya kaizen dari kontes pilpres satu ke lainnya, nampak biasa aja dan mengalir.

Taruhlah coba berkampanye begini, dia dengan partainya udah memperjuangkan rakyat dengan berkeras tenaga mempergunakan DPR. Udah ajukan aturan gini gini, draft undang undang gini gini, tapi nggak berhasil sebab tanpa dukungan presiden. maka kalau jadi presiden itu mau dilanjutkan dll.

Sampaikan apa yg udah dia personal lakukan dan partainya buat bangsa ini, hanya butuh sedikit dorongan energi dikit agar lebih baik agar jadi presiden.

Atau pas kampanye, kalah beberapa kali harusnya belajar ada metode kampanye yg signifikan jauh lebih baik, nampaknya juga cuman gitu gitu aja.

Udah pernah dicurangin beberapa kali, langkah antisipatifnya juga kurang josss. Padahal udah tau, lawannya berpeluang curang, mustinya 2 tahun sebelum pencapresan lagi, dia lakukan sesuatu dengan timnya buat pastikan pilpress jalan baik, nampaknya kurang jg bab ginian.

Walau ya, dibanding yang udah 4,5 tahun njabat, si jaenudin, untuk sekarang ini insya Allah mending prabowo banget. Apalagi dia ada janji dengan tim ulama mengenai pembelaan kepada islam, itu jadikan saya cenderung memilih ‘yang penting jangan jaenudin yang jadi’.

Tapi pun, kalaupun prabowo kalah lagi, ya ndak papa. Berkompetisi kadang ada kalanya menang, lalu separuhnya kan potensinya belum menang (saya sebut belum, kali aja kayak abraham lincoln dikasih menang di belakang).

4. kenapa ikut berjuang? perhatikan pengaturan negara yang carut marut. Perhatikan pasal pasal UU ITE yang hanya jadi alat kekuasaan dan orang yang punya uang. Pasal karet yang super berbahaya di jaman kemerdekaan digital sekarang.

Ada kejahatan, di rekam, di upload. yang dipenjara yang meng-upload. Pelaku yang direkam nggak diurus. Ini nalar yang aneh dan sungguh tidak membangun. Saya berjuang agar UU ITE bisa dijalankan dengan seidealnya, bukan buat mainan ke kanak kanakan.

5. Aturan pendaftaran pilpress yang mencegah benih benih potensial masuk. Ya, aturan electoral threshold. Setiap anak bangsa berilah kesempatan agar bisa menjadi leader dan biarkan anak bangsa memilih leader yang terbaik.

Bikin seleksi panjang. Macam kita cari benih atlet pemain bola. Kompetisikan kalau perlu setahun agar rakyat ngerti betul siapa yang akan dipilih dan ISI OTAK DIA sebelum memimpin.

Pembatasan harus ada partainya, memangnya orang pinter cuman orang yang dipartai? Ini sungguh memuakkan.

Kalau you inget, aslinya ya, dulu partai demokrat udah bikin inisiasi yang baik dengan bikin konvensi partai demokrat. ya walau eksekusinya kurang maksimal. namun waktu itu Pak Dahlan Iskan bisa muncul dan menonjol (walau enggak di pake kemudian, kasihan banget dia) saya udah apresiasi bagus.

Suruh tuh TUNJUKIN Kamu siapa, kamu bisa apa. udah kontribusi apa. barulah suruh kita milih.

BUkan rakyat dibodohi dengan poster wajah calon calon, apalagi calon dpr yang muncul di injuri time pencoblosan doang. SIAPE ELUUH?

6. Urusan nyawa, ini urusan penting. Kenapa negara seperti ‘santai santai saja’? Mengapa nampak ada pembiaran? Nyawa KPPS, nyawa lainnya. Termasuk di sini kasus kriminalisasi ulama dan lawan politiknya.

Duh, ini jaman keterbukaan. Buka dong, itu kenapa meninggal? Berilah ruang untuk berbeda pendapat, mosok beda pendapat ndak boleh. Dikit dikit dimasukin penjara?

Terangkan dong. Jangan otoriter malah makar kepada rakyatnya secara telanjang dan terang benderang.

7. Plis. Kalau blm mampu jalankan islam dengan baik, berilah ruang orang islam jalankan agamanya dengan sebaik baiknya dengan sepenuh penuhnya. Tak usah di otak atik.

8. Negara ini, butuh di pimpin oleh orang orang kompeten. termasuk menteri menterinya. Akhirilah model menkosaurus, menteri segala urusan dia. Cari profesional yang memang ahli jalankan pemerintahan bukan sekedar bagi bagi kekuasaan dan komisaris di BUMN.

Kompeten juga bermakna, sportif. Nggak mampu, nggak berprestasi, nggak perform, tau dirilah mengundurkan diri atau ikhlash di pecat. Kasih kesempatan orang lain, yang lebih kompeten buat berbakti buat negerinya.

9. Menentang nalar pikir hutang. Saya setuju bangunan infrastruktur bagus, saya juga senang jalan yang jalannya itu halus. Hanya, cobalah berpikir dengan skenario tanpa hutang. Berfikirlah.

Pak anjrah punya solusi membangun tanpa hutang? Sejauh ini belum, karena kompetensi saya tidak disitu. Tapi buat kamu yang merasa jago dan berani mengajukan jadi pemimpin negara, kamu mustinya sudah benar benar bisa mencermati hal ini.

Simpel di kata, SBY bisa lo membangun sambil bayar lunas hutang ke IMF. artinya, ada potensi, tetap membangun, dan yang SBY bangun itu banyak lo, walau kejatah gunting pitanya di jokowi beberapanya.

Coba tanya SBY, tanya ke para pakar keuangan. Kalau cuma membangun dasar hutang, tetangga saya juga banyak yang bisa bangun bangun dengan modal hutang ke bank. Saya pun bisa, tapi itu kan tidak cerdas.

Saya sendiri, misal nggak bisa desain, saya cari karyawan yang bisa ngedesain. Saya emang ndak bisa teknis desain, tapi saya sebagai leader paham DESIGN GIMANA yang disukai pasar dengan data dan riset saya.

10. Saya tahu politik jebakan hutang ala RRC yg udah hancurkan Srilangka dan negara negara lain.

Saya lihat dan sudah nyata Indonesia jalan menuju ke sana. Melalui menkosaurus LBP proyek OBOR (one belt one road) ini udah mulus masuk ke Indonesia.

Dan Jaenudin kayak polos banget, ngikuttttt aja masuk ke jebakan OBOR. Bahkan meridhoi menteri Rinso jaminkan BUMN buat aneka proyek jebakan itu.

Perih Lo, punya negara tapi asetnya tergadai ke negeri lain yg tak peduli urusan umat dan warga negara sendiri.

Mbah Mbah kita dulu, capek capek dan bersimbah darah utk kemerdekaan. Masa kita yg liat negeri ini udah mau masuk era penjajahan baru OBOR malah you diem aja?

You terlalu Polos apa malah ndukung? Apa nggak paham? Yg gini gini ini berbahaya. Presiden nggak paham kedaulatan dan ‘nduwe perwiro’ utk jaga Marwah bangsa.

PENUTUP

Yah, itu kayaknya yang saya pikirkan. Saya tak menutup ada beberapa kebaikan di rezim sekarang, hanya saja, kebaikannya sedikit sekali.

Ya ini cuplikan narasi perjuangan saya. Tak perlu kamu debat. Kamu boleh punya narasi sendiri, beda pun tidak apa apa.

Narasi ini tidak perlu juga dirimu kritik, karena nggak manfaat. buatlah narasimu, ku ingin tau, apa alasanmu berjuang, bukan asal ikut ikutan gitu lo. Faktor “why-nya” apa?

Oke ya.

Berjuang atas nama bangsa dan agama. Ape lo ape lo?

Anjrah Ari Susanto
Warga desa biasa, Klaten.

Nah, kutipannya cuma sampai disitu.

Mengapa Perlu Menyampaikan Narasiku Tentang Prabowo Vs Jokowi, Pemilu 2019?

Tentunya saya berharap ada keterbukaan antara diri saya dengan rekan rekan semua.

Barangkali, pada pilihan politik kita berbeda. Hanya saja, dalam sisi lain yang sama, ya kita santai santai saja. Saya pribadi juga tetap berteman, berelasi baik dengan kawan kawan yang beda pilihan politik.

Walau, ya pas di facebook tetap ‘kadang bertempur’. Secara dewasa bisa¬†trap papan trap panggonan (pepatah jawa: bisa tau sikon, konten dan konteksnya).

Memberi kontribusi buat negara tak selalunya harus jadi presiden / anggota DPR dulu. In my opinion, Sedikit sedikit, sharing ke keluarga, ke tetangga, follower, dan teman teman sendiri mengenai visi baik yang kita inginkan buat negeri ini juga tetap layak di hitung.

Sekali lagi..

Semoga Apapun nanti hasil pilpresnya, Allah membimbing siapapun yang menjabat untuk:

  1. mencintai rakyat indonesia dengan tulus, baik pendukung maupun lawan politiknya
  2. bisa menjadikan negara ini semakin baik di kemudian hari

Dah ya makasih.

Coach Anjrah

Komentarmu Apa? Gantian Sharing Dong

Emailmu tidak saya publikasikan Required fields are marked *

Welcome Kak. Blog Ini, Sharing Ilmunya Pak Anjrah Untukmu. Supaya Kamu Lebih Cepat Sukses Dalam Belajar Internet Marketing & Berbisnis Online.
Subscribe Channel Youtube Coach Anjrah