Anjrahweb.Com – Judul kali ini cukup berat, saya tuliskan apa yang saya pelajari dari kelas bisnisnya pak Happy Trenggono.
Temanya kurang lebih 7 tahapan tangga bisnis dan tantangan krisis yang harus dihadapi untuk menang ditiap tangga tersebut. Ini tulisan pelengkap dari yang pernah saya tulis sebelumnya.
Saya buat jadi judul gini aja, From Creation to Empire: Mastering the 7 Stages and Survival Crises of Business.
Saya mendapat pemahaman dari kelas ini, Setiap bisnis memiliki evolusi biologisnya sendiri.
Kamu tidak bisa memaksa bayi untuk langsung lari marathon.
Ada tahapan yang harus dilalui, dan di setiap anak tangga itu, ada “monster” berupa krisis yang siap menerkammu kalau kamu tidak waspada.
Banyak pengusaha pemula di Indonesia terjebak dalam euforia “yang penting jualan.”
Padahal, membangun bisnis dengan aset triliunan itu soal membangun pondasi yang presisi.
Mari kita bedah 7 tahapan esensial ini dengan kacamata praktis, supaya kamu tidak kaget saat badai datang menghantam bisnismu, entah kamu sedang merintis warung penyetan, jualan gamis, atau membuka layanan jasa seperti terapi PAZ.
7 Essential Stages
Apa saja tangga bisnis itu? Apa saja krisis yang harus kamu selesaikan tiap tangganya?
Tahap 1: Creation (Masa Penciptaan)
Semua berawal dari sebuah ide.
Di tahap ini, fokus utama kamu adalah menjawab pertanyaan mendasar: apa yang mau dijual, siapa yang mau beli, dan bagaimana cara operasionalnya.
Bayangkan kamu baru mau membuka warung penyetan gorengan.
Di tahap ini, kamu sibuk mencari resep sambal yang bikin orang ketagihan, mencari supplier ayam yang murah tapi segar, dan memikirkan modalnya dari mana.
Stage 1: Creation
[1] Idea, Inspiration
[2] How to fund
[3] How to operate
[4] How to sell
Krisis di tahap ini adalah Traction.
Crisis
[1] Experiment
[2] Finding Traction
Banyak bisnis mati di sini karena idenya hanya bagus di kepala, tapi tidak laku di pasar.
Kamu melakukan eksperimen berkali-kali.
Kalau sambalmu tidak ada yang beli dalam sebulan, ya bisnismu selesai.
Kamu harus mencari traksi, mencari bukti bahwa pasar memang butuh solusi yang kamu tawarkan.
Di tahap ini, kamu adalah segalanya; kamu yang masak, kamu yang melayani, kamu yang menghitung uang.
Tahap 2: Niche (Menemukan Sudut yang Menguntungkan)
Setelah warung penyetanmu mulai ramai, kamu masuk ke tahap Niche.
Di sini kamu harus bertanya: bagian mana dari bisnismu yang paling menghasilkan uang?
Stage 2: Niche
[1] Your most profitable corner of market
[2] 3 Fundamental Questions in bussines
[3] Law of 80/20
[4] The deeper you go, the more you will sell
Mungkin dari 20 menu yang kamu punya, ternyata bebek goreng sambal korek-lah yang menyumbang 80% keuntunganmu.
Ini adalah hukum Pareto 80/20 yang sering dibahas di forum bisnis global.
Semakin spesifik kamu bergerak, semakin besar peluangmu untuk menang.
Misalnya, kamu jualan gamis.
Alih-alih jualan segala jenis pakaian muslim, kamu fokus ke “gamis set syari untuk ibu menyusui.”
Fokus sedalam mungkin.
Namun, hati-hati dengan krisis Exhaust.
Crisis
[1] Over stretch
[2] Exhaust
Kamu akan merasa sangat lelah karena permintaan mulai membeludak, tapi semua proses masih bergantung pada tenagamu.
Kamu merasa “over stretch,” merasa ditarik ke segala arah sampai hampir patah.

Tahap 3: Leverage (Daya Ungkit)
Di sinilah perbedaan antara pedagang dan pengusaha terlihat.
Pengusaha sejati paham cara menggunakan “daya ungkit.”
Stage 3: Leverage
[1] Have more, doing less
[2] PPM (Other People’s Money), OPT (Other People’s Time), OPK (Other People’s Work), OPE (Other People’s Experiences), dan OPI (Other People’s Ideas)
Kamu mulai menggunakan uang orang lain (investor/bank), waktu orang lain (karyawan), dan ide orang lain untuk memperbesar skala usahamu.
Jika kamu memiliki klinik terapi PAZ, kamu mulai berpikir untuk membuka cabang dengan sistem bagi hasil.
Krisisnya adalah Abdicate atau lepas tangan secara serampangan.
Crisis
[1] Crazy idea: want to be on the business, not in the business
[2] Abdication
Kamu merasa sudah jadi bos besar, lalu meninggalkan bisnis begitu saja tanpa pengawasan.
Kamu ingin “on the business” tapi malah jadi masa bodoh.
Jika kamu salah langkah, asetmu yang mulai besar itu bisa menguap karena kamu belum siap memberikan wewenang dengan cara yang benar.
Tahap 4: Delegation (Delegasi Wewenang)
Delegasi bukan berarti membuang tugas, tapi memberikan otoritas.
Kamu harus mulai menunjuk manajer untuk warung penyetanmu atau kepala penjahit untuk bisnis gamismu.
Keyword-nya adalah Authority.
Stage 4: Delegation
[1] Most people don’t delegate, most people abdicate
[2] The keyword is Authority
[3] What is measure is what is gets done, what is manage is what is gets done
[4] You need to be engaged
Kamu harus mengukur apa yang dikerjakan dan mengelola apa yang diukur.
Masalahnya, krisis yang muncul adalah Control.
Crisis
[1] Inconsistency
[2] How I Control everybody
Kamu mulai merasa tidak konsisten.
Di cabang A rasanya enak, di cabang B hambar.
Kamu mulai pusing bagaimana cara mengontrol banyak orang dengan kepala yang berbeda-beda.
Di tahap ini, keterlibatanmu masih sangat dibutuhkan untuk menjaga standar kualitas.
Tahap 5: Systemize (Sistemasi)
Kalau kamu ingin punya aset triliunan, bisnismu harus bisa berjalan tanpa kamu.
Kamu butuh sistem.
Stage 5: Systemize
[1 Systemize of bussiness
Semuanya harus tertulis; standar resep, standar pelayanan, hingga standar laporan keuangan.
Bisnis yang tersistem adalah bisnis yang punya nilai jual tinggi.
Namun, sistem punya sisi gelap yang kami sebut krisis Red Tape atau birokrasi yang berlebihan.
Crisis
[1] System doesn’t promote flexibility
[2] System doesn’t promote passion
[3] Growth and Control work inversely
[4] System tend to RED TAPE (excessive bureaucracy)
Bisnismu jadi kaku seperti robot.
Karyawanmu tidak berani mengambil keputusan kreatif karena takut melanggar SOP.
Pertumbuhan dan kontrol seringkali bekerja secara terbalik; semakin ketat kontrol, biasanya pertumbuhan melambat karena hilangnya fleksibilitas.
Tahap 6: Culture (Budaya Perusahaan)
Budaya adalah konteks terbesar yang bisa mengubah isi bisnismu.
Stage 6: Culture
[1] Creating Company Culture
[2] Culture is the biggest context that can change the content on your business
[3] Growth and Contribution is the mother of passion
[4] “Passion is not to be found, passion is to be created”
Di tahap ini, kamu tidak lagi bicara soal teknis cara menggoreng ayam, tapi bicara soal nilai-nilai.
Mengapa kita melakukan ini?
Apa kontribusi kita bagi masyarakat?
Jika karyawanmu merasa memiliki visi yang sama, mereka akan bekerja dengan gairah (passion).
Ingat, passion itu bukan dicari, tapi diciptakan lewat lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan.
Krisis di tahap ini adalah rasa Entitled atau merasa berhak mendapatkan segalanya tanpa usaha lebih.
Crisis
[1] Entitled
Karyawan atau bahkan kamu sendiri mulai merasa di zona nyaman, merasa sudah besar, dan akhirnya berhenti berinovasi.
Tahap 7: Entrepreneurial (Jiwa Kewirausahaan Kembali)
Tahap terakhir adalah kembali ke akar kepengusahaan namun dengan skala yang jauh lebih masif.
Kamu harus mempromosikan kembali fleksibilitas.
Stage 7: Entrepreneurial
[1] Promoting flexibility
[2] How we drive change
[3] How we drive opportunity
[4] Return Entrepreneurship
Kamu harus bisa mendorong perubahan dan melihat peluang baru di tengah kemapanan sistem yang sudah ada.
Ini adalah tahap di mana kamu memimpin perubahan pasar, bukan lagi sekadar mengikuti arus.
Kamu harus siap menghancurkan sistem lama yang sudah usang untuk membangun sesuatu yang lebih relevan dengan zaman.
Bisnis Ada Tangganya, Setiap Tangga Ada Krisisnya
Jadi, Sekarang, coba kamu ambil napas dalam-dalam dan lihat ke cermin.
Tatap bisnismu dengan jujur.
Di anak tangga mana kamu sekarang berdiri?
Apakah kamu masih terjebak di tahap Creation karena idemu belum kunjung mendapatkan traksi?
Ataukah kamu sedang merasa sangat lelah (Exhaust) di tahap Niche karena semua hal masih harus kamu sentuh sendiri?
Jangan takut dengan krisis.
Krisis adalah tanda bahwa bisnismu sedang bertumbuh.
Seperti otot yang harus robek sedikit agar bisa menjadi lebih besar, bisnismu juga harus mengalami guncangan agar pondasinya semakin kuat.
Sudahkah kamu sukses menjalani krisis di tahapmu saat ini, atau kamu justru sedang lari dari tanggung jawab untuk menyelesaikannya?
Ingat, pengusaha besar bukan mereka yang tidak pernah punya masalah, tapi mereka yang sanggup naik kelas setiap kali masalah itu datang menghampiri.
Jadi, mau naik tangga sekarang atau tetap diam di tempat dan tergilas oleh waktu?
Katakan padaku, apa langkah konkretmu besok pagi untuk menyelesaikan krisis di tahap bisnismu saat ini?
Anjrah Ari Susanto, S.Psi.





No comment yet, add your voice below!