Ringkasnya, tulisan ini menjawab, kenapa Saya Akhirnya Memilih Windsurf untuk Daily Coding AI Dibanding Cursor, Claude Code, sampai OpenCode

Ya, jelas, dunia AI benar-benar mengubah cara saya belajar teknologi.

Awalnya saya hanya memakai AI seperti ‘kebanyakan orang’.

Bertanya ke ChatGPT, diskusi ide, cari solusi cepat, lalu selesai. Tapi lama-lama saya sadar, AI sekarang bukan cuma mesin tanya jawab.

AI sudah berkembang menjadi alat produksi. Bukan sekadar chatbot.

AI sekarang bisa membantu membuat aplikasi, membangun website, menulis kode, bahkan membantu memikirkan arsitektur software dari nol.

Dari situ saya mulai penasaran.

Kalau AI sudah secanggih ini, bagaimana cara memanfaatkannya untuk coding sehari-hari?

Karena jujur saja, saya bukan programmer murni yang sejak awal hidup di dunia software engineering.

Saya datang dari dunia bisnis digital, VPS, WordPress, landing page, automation, dan marketing.

Jadi pendekatan saya ke AI coding benar-benar dari sudut pandang praktisi yang ingin membuat sesuatu bekerja.

Table of Contents

Awal Belajar Vibecoding Pakai ChatGPT

Awalnya saya coding benar-benar memakai metode paling sederhana.

Tanya ke ChatGPT, copy kode, lalu paste ke editor.

Error sedikit, balik lagi ke ChatGPT.

Begitu terus berulang.

Waktu itu rasanya sudah luar biasa.

Karena orang yang sebelumnya tidak terlalu dalam di dunia coding tiba-tiba bisa membuat sesuatu berjalan hanya dengan bantuan AI.

“Saya menyadari bahwa AI sekarang sudah lebih berkembang dibanding sekadar LLM untuk tanya-tanya ataupun diskusi, tapi bisa untuk membuat karya sesuatu.”

Dari situ saya mulai masuk lebih serius ke dunia vibecoding.

Istilah yang sekarang sering dipakai untuk menggambarkan coding berbasis AI collaboration.

Jadi manusia bukan mengetik semuanya sendiri, tapi bekerja bersama AI.

Masuk ke VS Code dan VPS Production

Langkah berikutnya, saya mulai menggunakan VS Code.

Menariknya, saya langsung coding di server production memakai VPS karena memang sebelumnya sudah cukup terbiasa mengelola website WordPress di VPS.

VS Code menurut saya luar biasa.

Terutama dengan extension seperti Remote SSH.

Kita bisa langsung bekerja ke server secara live tanpa harus upload-download file manual pake SFTP seperti zaman dulu.

Dari sini saya mulai sadar bahwa coding modern bukan cuma soal menulis kode.

Tapi bagaimana workflow antara editor, server, AI, terminal, dan deployment bisa saling terhubung dengan nyaman.

Mencoba Banyak Extension AI Coding

Saya mulai mencoba banyak extension AI coding.

Mulai dari integrasi extension VS code ke ChatGPT, Anthropic Claude, Continue, Cline, Roo Code, sampai berbagai turunan extension VS Code lainnya.

Saya juga sempat eksplor editor turunan VS Code seperti Cursor dan Windsurf.

Secara tampilan memang mirip VS Code karena fondasinya sama.

Tapi ternyata perilaku AI dan sistem indexing-nya sangat berbeda.

Di titik ini saya mulai paham bahwa AI coding itu bukan hanya soal model AI paling pintar.

Workflow editor dan cara AI memahami project ternyata jauh lebih penting.

Belajar CLI Agent seperti OpenCode dan Claude Code

Lalu saya masuk ke dunia CLI agent.

Ini menarik sekali.

Karena ternyata AI tidak harus hidup di browser atau editor visual.

AI bisa berjalan langsung di terminal.

Saya mencoba OpenCode, OpenClaude, Claude Code, sampai Hermes AI.

Dan jujur saja, saya cukup menikmati pendekatan CLI agent seperti ini.

Kenapa? Karena ringan, cepat, dan terasa dekat dengan sistem komputer.

Kita tidak perlu buka browser penuh tab.

AI bisa langsung bekerja di folder project yang kita beri izin.

“Saya senang karena kita enggak usah capek-capek buka browser dan semuanya sangat ringan, bisa bekerja langsung di komputer kita.”

OpenCode menjadi salah satu favorit saya untuk workflow ringan.

Terutama karena ada fasilitas API gratis yang cukup membantu untuk coding basic dan eksplorasi project kecil.

Sementara Hermes AI menarik karena terasa seperti agen perencana dan pekerja yang super lengkap.

Bukan cuma membantu coding, tapi membantu berpikir dan mengelola alur kerja project.

Masalah Besar AI Coding Pemula

Masalah terbesar saya waktu memakai AI coding biasa adalah file yang berantakan.

AI sering membuat file baru terus-menerus tanpa memahami keterkaitan project secara utuh.

Saya pernah mengalami situasi ketika AI deepseek membuat PHP baru, folder baru, struktur baru, tapi bukan menyelesaikan masalah utama.

Akhirnya project malah semakin rumit.

Apalagi kalau memakai API yang kurang tepat.

Saya sempat mencoba beberapa model murah yang akhirnya looping terus dan menghasilkan refactor yang melelahkan.

Masalah berikutnya adalah indexing isi file codingan.

Banyak AI coding tool sebenarnya pintar, tapi tidak benar-benar membaca hubungan antar file dalam keseluruhan satu project.

Akhirnya satu error selesai, tapi file lain rusak.

Satu fitur jalan, fitur lain error.

Workflow seperti ini sangat melelahkan untuk pemula.

Kenapa Cursor Sempat Jadi Favorit

Titik perubahan besar saya terjadi ketika mencoba Cursor AI.

Di sini saya mulai merasakan perbedaan antara AI chat biasa dengan AI-native IDE.

Cursor punya sistem indexing yang jauh lebih serius.

Project dibaca sebagai satu kesatuan.

Jadi hubungan antar file jauh lebih terjaga.

Vibecoding Pemula Cursor Vs Windsurf ChatGPT, VS Code, Cursor, Claude Code, OpenCode hermes

Menurut saya ini game changer besar dalam dunia vibecoding.

Karena AI tidak lagi bekerja secara buta per file, tapi mulai memahami struktur project secara menyeluruh.

Saya juga suka sistem orchestration di Cursor.

Ada composer yang membantu memilih model AI terbaik sesuai kebutuhan task.

Jadi kita tidak harus capek memilih kapan memakai Claude, kapan memakai model lain, kapan memakai reasoning model tertentu.

Sistemnya sudah membantu otomatis.

“Kalau kita mengganti-ganti sendiri itu sangat melelahkan.”

Tapi Cursor punya satu masalah besar bagi saya.

Ketika limit habis, pekerjaan terasa berhenti total.

Dan untuk workflow harian yang intens, itu cukup mengganggu.

Kenapa Saya Akhirnya Memilih Windsurf

Akhirnya saya mencoba Windsurf.

Dan jujur saja, sampai hari ini saya merasa paling cocok menggunakan Windsurf untuk daily coding.

Windsurf menurut saya berhasil mengambil kenyamanan VS Code, kecerdasan AI-native IDE, lalu menambahkan workflow yang lebih ramah untuk pengguna harian.

Salah satu fitur yang saya suka adalah Cascade.

Sistem ini membuat AI terasa lebih adaptif dalam memahami project dan alur kerja coding.

Secara kemampuan problem solving, saya masih mengakui Cursor sangat cepat.

Tapi Windsurf terasa lebih nyaman dipakai jangka panjang.

Alasan paling realistis tentu soal biaya dan kuota. Windsurf masih memberikan pilihan AI gratis ketika kuota utama habis. Buat pengguna Indonesia, ini sangat membantu.

Karena realitanya, tidak semua orang sanggup terus-menerus membakar biaya API mahal hanya untuk eksperimen coding.

“Kalau di Cursor paket habis kita enggak bisa ngapa-ngapain. Kalau di Windsurf masih ada fasilitas gratisnya.”

Bagi saya pribadi, Windsurf akhirnya terasa paling seimbang antara kemampuan AI, workflow project, kenyamanan, dan efisiensi biaya.

Pelajaran Penting Tentang VPS dan RAM

Satu hal yang sering tidak dibahas orang ketika vibecoding adalah konsumsi resource.

AI-native IDE seperti Cursor dan Windsurf melakukan indexing cukup agresif.

Kalau langsung dipasang di VPS kecil tanpa pengaturan yang benar, server bisa kehabisan RAM dan mati sendiri.

Saya pernah melihat VPS 2 CPU dan RAM 4 GB cukup kewalahan ketika dipakai untuk development modern dengan indexing AI aktif.

Belum lagi kalau stack yang dipakai berbasis Node.js, React, Next.js, atau Laravel dengan service tambahan.

Konsumsi RAM bisa meningkat cukup drastis.

Karena itu, memahami stack technology tetap penting.

AI memang membantu coding, tapi kita tetap harus memahami dasar workflow software dan server.

AI Coding Itu Tentang Workflow

Dari semua perjalanan mencoba ChatGPT, VS Code, Continue, Cline, Roo Code, OpenCode, Claude Code, Cursor, sampai Windsurf, saya akhirnya menyadari satu hal.

AI coding bukan soal siapa AI paling pintar. Tapi siapa yang workflow-nya paling cocok dengan cara kerja kita.

Buat saya pribadi, Windsurf saat ini paling nyaman untuk daily coding.

Bukan karena paling sempurna, tapi karena paling seimbang antara kemampuan, harga, indexing, dan kenyamanan workflow.

Dan mungkin beberapa bulan lagi semuanya berubah lagi.

Karena dunia AI coding bergerak sangat cepat.

Bagaimana dengan workflow coding AImu, Pakai Apa?

 

Makasih Ya

Anjrah Ari Susanto, S.Psi. adalah business coach, praktisi digital marketing, AI coding enthusiast, dan pengembang berbagai project digital berbasis AI workflow dan praktisi vibecoding.

Ikuti eksplorasi AI coding, workflow digital, bisnis, dan teknologi lainnya melalui:

 

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *