Banyak pemula yang mulai coding dengan bantuan AI seperti Windsurf, Cursor, Claude Code, Continue, Cline, atau ChatGPT sering berhenti di titik yang sama.

Bukan karena mereka malas belajar, tetapi karena mereka keburu bingung.

Harus mulai dari mana, stack apa yang dipakai, dan mana yang benar untuk jangka panjang sering terasa seperti pertanyaan yang terlalu besar untuk dijawab di awal.

Masalahnya, dunia coding modern memang penuh pilihan.

Ada React, Next.js, Vue, Angular, Laravel, NestJS, Fastify, Go, Rust, PostgreSQL, MariaDB, MongoDB, Redis, Bun, sampai Hono.

Kalau semua dilihat sekaligus, yang muncul sering bukan kejelasan, melainkan ruwet.

Di titik itu, banyak orang akhirnya ikut tren, ikut influencer, atau ikut perang bahasa pemrograman, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah keputusan yang tenang dan masuk akal.

Artikel ini ditulis untuk membantu Anda, ya berdasar pengalaman saya, untuk memulai vibecoding dengan hati bahagia.

Fokusnya bukan pada teori yang rumit, tetapi pada keputusan praktis supaya Anda bisa memilih frontend, backend, dan database dengan lebih rapi, lebih realistis, dan lebih cocok untuk kerja bersama AI sejak awal.

Ini bukan soal teknologi paling keren, tetapi soal teknologi yang paling membantu produk bisa benar benar produksi serta selesai.

Apa itu vibe coding

Vibe coding adalah pendekatan membangun software dengan bantuan AI secara intensif.

Dalam pola ini, developer tidak lagi menulis semua kode sendiri dari nol.

Peran developer bergeser menjadi pengarah, penyusun alur, reviewer hasil, dan penjaga struktur.

AI yang menulis banyak bagian kode, sementara manusia yang menentukan arah, prioritas, dan batasan.

Karena itu, vibe coding bukan sekadar soal memakai tool AI. Ini adalah perubahan cara kerja.

Orang yang biasa berpikir sebagai penulis kode kini lebih sering berpikir sebagai product thinker, system designer, operator AI, dan reviewer.

Mereka tidak lagi fokus pada berapa banyak baris kode yang diketik, tetapi pada apakah hasil akhirnya rapi, stabil, dan layak dipakai oleh user.

Di sini letak perubahan paling penting. Jika dulu orang mengejar bahasa pemrograman terbaik, sekarang yang lebih penting justru adalah seberapa mudah AI memahami struktur project.

Stack yang terlalu rumit akan membuat AI gampang salah arah.

Stack yang terlalu unik akan memperbesar risiko error, konflik dependency, dan debugging yang melelahkan.

Maka, dalam vibe coding, kesederhanaan yang tertata sering lebih unggul daripada kompleksitas yang terlihat canggih.

Kenapa pemula sering salah pilih stack?

Kesalahan paling umum adalah langsung memilih stack paling hype saja.

Ada yang tergoda Rust karena dianggap modern, ada yang ingin langsung pakai Kubernetes karena terdengar profesional, ada juga yang sibuk mencoba banyak teknologi sekaligus. Masalahnya, project awal biasanya belum butuh semua itu. Kebanyakan project pemula hanya butuh landing page, dashboard admin, LMS, CRM, booking system, atau SaaS sederhana yang bisa berjalan stabil.

Memilih teknologi terlalu tinggi levelnya untuk kebutuhan awal sering seperti membeli mesin Formula 1 untuk antar galon. Secara teori bisa jalan, tetapi biaya mentalnya terlalu mahal. Pemula akhirnya sibuk menjaga mesin, bukan membangun produk. Padahal tujuan awal bukan menunjukkan kecanggihan stack, melainkan menyelesaikan produk yang bisa dipakai dan diuji oleh user nyata.

Kesalahan kedua adalah mencampur terlalu banyak teknologi dalam satu project.

Frontend memakai React, backend pakai Go, autentikasi pakai Firebase, database pakai MongoDB, queue pakai RabbitMQ, realtime pakai Supabase, AI pakai Python, deployment pakai Docker Swarm, lalu CDN dikelola Cloudflare Workers.

Secara teknis semua itu mungkin, tetapi secara operasional sering menjadi sumber kekacauan.

AI bingung, developer bingung, struktur project tidak jelas, dan ketika error muncul, akar masalahnya sulit ditemukan.

Kesalahan ketiga adalah tidak memikirkan maintenance.

Coding bukan cuma soal “bisa jalan”.

Yang jauh lebih penting adalah apakah kode mudah dipahami lagi tiga bulan ke depan, apakah AI masih bisa membaca struktur project dengan baik, apakah sistem bisa dipindah server, dan apakah tim lain bisa melanjutkan pekerjaan tanpa harus mengulang dari nol.

Di titik inilah banyak project gagal, bukan karena fiturnya jelek, tetapi karena strukturnya tidak dirawat sejak awal.

Memilih yang sudah opinionated

Istilah opinionated dalam dunia software berarti framework atau stack yang punya cara kerja yang cukup tegas.

Dengan kata lain, sistemnya sudah “punya pendapat” tentang bagaimana kode harus disusun.

Anda tidak bebas melakukan semua hal sesuka hati, tetapi justru diarahkan ke pola tertentu supaya project tetap rapi, konsisten, dan mudah dibaca.

Contoh yang paling sering disebut adalah NestJS.

Framework ini mendorong pola yang jelas seperti controller, service, module, dan dependency injection.

Bagi pemula, ini sangat membantu karena AI juga lebih mudah mengikuti struktur yang sudah baku. Ketika pola project konsisten, output AI biasanya lebih stabil.

Ketika pola project acak, AI lebih mudah halusinasi, salah menaruh file, atau memberikan saran yang tidak nyambung dengan struktur yang sudah ada.

Framework yang terlalu bebas memang terasa fleksibel di awal, tetapi kebebasan itu bisa menjadi masalah ketika project mulai besar. Banyak project tumbuh cepat di bulan pertama, lalu mulai berantakan di bulan ketiga karena tidak ada aturan yang mengikat konsistensinya.

Karena itu, untuk vibe coding, stack yang opinionated sering lebih aman. Anda tidak sedang mencari kebebasan maksimum. Anda sedang mencari kejelasan, konsistensi, dan kecepatan iterasi yang sehat.

Cara memilih stack yang tepat

Bagaimana tipsnya?

Prinsip pertama adalah jangan mulai dari bahasa pemrograman, tetapi mulai dari jenis produk.

Kalau Anda membangun landing page, SaaS, dashboard, LMS, CRM, atau sistem member, maka kebutuhan utamanya adalah kecepatan development, struktur yang rapi, dan kemudahan maintenance. Dalam konteks seperti ini, stack yang terlalu eksotis biasanya justru menghambat. Yang Anda perlukan adalah kombinasi yang cukup populer, cukup matang, dan cukup mudah dipahami oleh AI maupun manusia.

Prinsip kedua adalah memilih stack yang paling mudah dipahami AI.

AI jauh lebih akurat ketika bekerja dengan teknologi yang populer, terdokumentasi luas, dan banyak contoh publiknya. React, Next.js, Node.js, NestJS, Fastify, PostgreSQL, MariaDB, dan Redis adalah contoh stack yang pola penggunaannya sangat sering muncul. Itu sebabnya output AI pada stack seperti ini biasanya lebih konsisten. Bukan karena stack lain buruk, tetapi karena ekosistem yang besar memberi AI lebih banyak pola untuk diikuti.

Prinsip ketiga adalah jangan overengineering.

Banyak pemula tergoda memakai microservice, container orchestration, atau arsitektur yang terlalu kompleks sejak hari pertama. Padahal masalah mendasar mereka sering masih sangat sederhana, seperti autentikasi yang belum rapi, struktur folder yang acak, validasi form yang lemah, atau query database yang belum efisien. Mulailah dari monolith yang rapi. Pecah menjadi service terpisah hanya ketika memang ada alasan nyata, misalnya traffic besar, beban worker tinggi, atau kebutuhan skalabilitas yang sudah terukur.

Prinsip keempat adalah menilai stack dari sisi production-friendly.

Stack yang bagus bukan hanya enak saat coding, tetapi juga enak saat dijalankan di server murah, mudah di-deploy, mudah di-maintain, dan tidak membuat Anda tergantung pada terlalu banyak platform. Dalam dunia bisnis digital, faktor seperti biaya server, kecepatan deploy, dan kemudahan debugging sering jauh lebih penting daripada kebanggaan memakai teknologi baru.

Frontend yang paling masuk akal

Frontend adalah bagian yang dilihat user di browser atau di layar HP.

Di sini, pilihan yang paling aman dan rasional untuk banyak kasus adalah React, terutama jika dipadukan dengan Next.js. Alasan utamanya sederhana.

Ekosistem React sangat besar, dokumentasinya sangat luas, dan AI cenderung lebih matang saat menghasilkan kode berbasis React.

Bagi banyak tim, ini berarti lebih sedikit eksperimen dan lebih banyak kepastian.

Next.js memberi nilai tambah yang penting.

Anda mendapatkan routing, SSR, optimasi, struktur project modern, dan dukungan yang baik untuk kebutuhan SEO. Untuk landing page, dashboard, SaaS, LMS, CRM, AI tools, membership system, dan admin panel, Next.js sudah sangat cukup. Anda tidak harus mencari framework lain hanya demi terlihat lebih baru.

Dalam banyak kasus, yang Anda butuhkan adalah hasil yang stabil, cepat, dan mudah dirawat.

Tailwind CSS dan shadcn/ui sangat layak dipasang di atas React atau Next.js. Alasannya bukan sekadar gaya visual.

Keduanya membantu mempercepat styling, menjaga konsistensi komponen, dan memudahkan AI saat membangun antarmuka. Developer yang sering bekerja cepat akan merasakan manfaat besar dari kombinasi ini, karena tampilan bisa disusun tanpa harus menulis CSS manual terlalu banyak.

Vue bukan pilihan buruk. Angular juga bukan pilihan salah. Namun untuk konteks vibe coding, React biasanya menang dalam hal jumlah referensi, keluasan komunitas, dan kualitas contoh yang bisa ditiru AI.

Karena itu, jika Anda ingin mengurangi risiko kebingungan di tahap awal, React dan Next.js tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Backend yang realistis untuk vibe coding

Bagian backend sering menjadi sumber kebingungan terbesar.

Banyak orang bimbang antara PHP, Node.js, Go, Rust, Python, Bun, dan Deno.

Padahal untuk mayoritas project digital modern, jawaban yang paling praktis justru tetap Node.js.

Alasannya bukan karena Node.js paling hebat, tetapi karena AI sangat paham ekosistemnya, library-nya melimpah, dan alur pengembangannya cepat.

Node.js kuat jika struktur project-nya benar. Masalah utama Node.js biasanya bukan pada performa inti, melainkan pada cara developer menyusun project. Kalau dependency berantakan, query jelek, dan arsitektur tidak rapi, hasilnya memang kacau. Tetapi kalau strukturnya jelas, Node.js sangat kuat untuk berbagai produk digital, dari dashboard internal sampai SaaS yang cukup kompleks.

Jika Anda ingin backend yang lebih terstruktur, NestJS adalah pilihan yang sangat aman. Framework ini cocok untuk SaaS, LMS, CRM, automation, dashboard, membership system, dan aplikasi multi user. NestJS memberi bentuk yang jelas pada project. Itu sangat membantu saat AI menulis kode, karena AI lebih mudah mengikuti pola yang tegas daripada pola yang terlalu bebas.

Fastify cocok jika Anda ingin backend yang lebih ringan dan cepat. Ini pilihan yang bagus untuk project yang tidak terlalu berat namun tetap membutuhkan performa bagus. Hono juga menarik untuk service kecil, webhook, API kecil, atau endpoint automation. Dalam banyak kasus, Hono bisa menjadi solusi yang sangat efisien jika Anda ingin sesuatu yang ringkas tetapi modern.

Go layak dipertimbangkan jika kebutuhan Anda menyangkut concurrency tinggi, penggunaan RAM yang hemat, atau layanan dengan trafik besar. Namun Go tidak otomatis lebih baik untuk semua proyek. Jika aplikasi Anda masih sering berubah, Node.js biasanya lebih cepat untuk iterasi.

Go baru terasa unggul ketika sistem mulai menuntut stabilitas operasional yang lebih tinggi dan beban kerja yang lebih berat.

Rust sangat kuat, tetapi untuk mayoritas pemula belum perlu. Rust unggul untuk performa ekstrem, compiler, engine, atau sistem low latency. Akan tetapi learning curve-nya tinggi dan kecepatan development sering lebih lambat. Kalau belum ada alasan teknis yang kuat, Rust lebih baik ditunda. Jangan memakai teknologi yang hebat hanya karena sedang ramai dibicarakan.

PHP juga tidak boleh diremehkan. WordPress memakai PHP, Laravel sangat kuat, hosting relatif murah, dan ekosistemnya sangat matang. Untuk project yang sifatnya CRUD heavy, admin panel, atau sistem yang ingin cepat jadi, Laravel masih sangat relevan. Bahkan untuk vibe coding, banyak struktur Laravel yang mudah dipahami AI karena dokumentasi dan pola penggunaannya luas.

Database yang aman untuk jangka panjang

Database sering dipilih terlalu cepat dan terlalu salah. Banyak pemula langsung memakai MongoDB karena terlihat modern, fleksibel, dan sering disebut cocok untuk aplikasi baru.

Padahal, untuk mayoritas aplikasi bisnis, relational database justru lebih aman. Data bisnis biasanya punya relasi yang jelas. Ada user, ada transaksi, ada invoice, ada akses member, ada log aktivitas, ada histori pembayaran, dan semua itu lebih nyaman dikelola dalam struktur relational.

PostgreSQL adalah pilihan paling aman untuk project modern. Stabil, kuat, fleksibel, dan cocok untuk jangka panjang. Ia sangat cocok untuk SaaS, LMS, CRM, automation, analytics, dan metadata AI. Kalau Anda ingin satu database yang bisa tumbuh bersama produk, PostgreSQL adalah jawaban yang sulit ditolak.

MariaDB dan MySQL juga masih sangat layak dipakai. Jika server existing Anda sudah memakai MariaDB, atau jika project Anda berhubungan dengan WordPress, maka MariaDB sering menjadi pilihan yang sangat efisien. Banyak bisnis justru tidak butuh database yang baru dan eksperimental. Mereka butuh database yang stabil, familiar, dan mudah dikelola oleh tim.

MongoDB cocok untuk kondisi tertentu, misalnya data yang sangat fleksibel dan schema yang sering berubah. Namun untuk transaksi, relasi data, laporan, membership, payment, dan analytics, relational database biasanya lebih aman. Jadi, default yang paling bijak tetap PostgreSQL atau MariaDB. MongoDB dipakai ketika memang ada alasan teknis yang jelas, bukan sekadar karena terdengar modern.

Stack rekomendasi untuk pemula

Kalau harus memilih satu stack yang paling realistis untuk mayoritas pemula modern, kombinasi yang paling aman adalah frontend memakai Next.js, styling memakai Tailwind CSS dan shadcn/ui, backend memakai NestJS atau Fastify, database memakai PostgreSQL atau MariaDB, cache memakai Redis, queue memakai BullMQ, deployment di VPS Debian dengan Nginx, lalu integrasi AI memakai API dari OpenAI, Gemini, atau DeepSeek. Stack seperti ini sudah sangat cukup untuk membangun bisnis digital serius tanpa terlalu rumit.

Panduan Vibe Coding untuk Pemula Memilih Frontend, Backend, dan Database Tanpa Bingung Bingung.webp

Kenapa kombinasi ini terasa kuat? Karena ia cukup modern, cukup populer, cukup mudah dipahami AI, dan tetap realistis untuk developer solo. Anda tidak dipaksa bergantung pada arsitektur yang terlalu mahal. Anda juga tidak terjebak pada stack yang terlalu eksperimental. Ini adalah titik tengah yang sehat antara kecepatan, stabilitas, dan kemampuan untuk terus tumbuh.

Untuk banyak kasus, monolith rapi jauh lebih baik daripada microservice terlalu dini. Monolith memudahkan debugging, memudahkan deployment, dan memudahkan AI memahami konteks project. Setelah traffic besar, barulah service tertentu bisa dipisah. Dengan cara ini, Anda tidak memikul kompleksitas yang belum perlu di awal.

Jika Anda membangun landing page yang terhubung ke sistem lead, CRM, LMS, atau otomasi pemasaran, stack seperti ini juga sangat cocok. Ia cukup fleksibel untuk berkembang, tetapi tidak terlalu rumit untuk dipelihara. Di dunia produk digital, itu adalah kombinasi yang sulit dikalahkan.

Struktur project dan cara kerja AI

Vibe coding sangat bergantung pada struktur. AI memang bisa menulis kode dengan cepat, tetapi AI juga sangat sensitif terhadap konteks. Jika project berantakan, AI akan lebih mudah salah menafsirkan peran file, salah menyusun alur, atau mengulang pola yang tidak konsisten. Karena itu, struktur project yang jelas bukan detail kecil. Struktur adalah fondasi agar AI bekerja dengan benar.

Struktur sederhana biasanya jauh lebih aman. Misalnya root project berisi folder frontend, backend, nginx, docs, scripts, dan README. Di backend, Anda bisa menjaga folder seperti controllers, services, models, routes, middleware, utils, dan integrations. Dengan pola seperti ini, AI lebih mudah membaca fungsi tiap bagian. Anda pun lebih mudah meninjau hasilnya tanpa harus membuka ulang seluruh project setiap kali.

Struktur yang baik juga membantu manusia. Setelah beberapa minggu atau beberapa bulan, Anda sendiri mungkin lupa detail keputusan awal. Jika project tertata, Anda masih bisa masuk kembali dan memahami apa yang sedang terjadi. Kalau project tidak tertata, Anda akan kehilangan waktu hanya untuk mencari file yang benar. Dalam praktik bisnis, waktu yang hilang seperti itu sangat mahal.

AI coding juga butuh aturan. AI sebaiknya tidak dibiarkan bebas tanpa konvensi. Beri nama file yang konsisten. Tentukan flow request, response, validasi, dan handling error. Tentukan juga batasan dependency yang boleh dipakai. Semakin jelas aturan yang Anda buat, semakin kecil kemungkinan project berubah menjadi chaos. Inilah salah satu mindset paling penting dalam vibe coding.

Langkah praktis untuk memulai

Kalau Anda baru mau memulai, jangan buka laptop lalu langsung memilih stack acak. Mulailah dari produk yang ingin dibangun. Tulis dulu apa problem utamanya.

Misalnya ingin membuat landing page untuk lead generation, dashboard untuk internal tim, LMS untuk jualan kursus, CRM untuk follow up, atau automation tool untuk mempercepat operasional. Dari situ, pilihan stack akan jauh lebih mudah.

Setelah produk jelas, pilih stack yang sudah mapan. Untuk frontend, Next.js akan sangat cukup. Untuk backend, gunakan NestJS atau Fastify. Untuk database, pilih PostgreSQL atau MariaDB. Untuk cache dan queue, gunakan Redis dan BullMQ jika memang dibutuhkan. Jangan menambah komponen hanya karena terlihat keren. Tambahkan hanya jika ada fungsi yang benar-benar berguna.

Langkah berikutnya adalah membuat aturan (rule) project. Tentukan struktur folder, naming convention, dan alur komunikasi antara frontend, backend, serta database. Buat README yang menjelaskan cara menjalankan project. Simpan semua konfigurasi penting secara rapi. Dengan begitu, AI bisa bekerja di atas fondasi yang jelas, dan Anda tidak membuang waktu untuk memahami ulang project dari nol setiap kali membuka ulang.

Setelah itu, fokus pada iterasi cepat. Jangan tunggu sempurna. Bangun versi sederhana dulu, lalu perbaiki berdasarkan kebutuhan nyata. Dalam bisnis digital, kecepatan belajar dari user sering lebih berharga daripada kesempurnaan teknis. Produk yang cepat diuji akan jauh lebih cepat berkembang dibanding produk yang terus ditunda karena ingin sempurna sejak awal.

Terakhir, jangan gonta ganti stack terlalu sering. Hari ini Next.js, besok Astro, lusa Svelte, minggu depan Rust, akhirnya tidak ada yang benar-benar anda kuasai. Satu stack yang dipelajari dengan sungguh-sungguh sering lebih menghasilkan daripada banyak stack yang hanya dicicipi sedikit.

Dalam vibe coding, konsistensi jauh lebih bernilai daripada rasa penasaran yang berakhir banyak project mangkrak tidak jelas kelanjutannya.

Glosary beberapa istilah penting

Bagian ini merangkum istilah yang paling sering muncul saat Anda berdiskusi soal frontend, backend, database, dan vibe coding. Tujuannya supaya Anda lebih mudah membaca output AI, memahami arahan teknis, dan menyusun prompt dengan lebih presisi.

IstilahArti sederhanaKenapa penting
FrontendBagian tampilan yang dilihat user di browser atau layar HP.Menentukan pengalaman pengguna, kecepatan loading, dan kenyamanan navigasi.
BackendBagian logika di server yang mengurus data, autentikasi, dan proses bisnis.Menentukan apakah aplikasi stabil, aman, dan mudah dikembangkan.
DatabaseTempat menyimpan data seperti user, transaksi, konten, dan log aktivitas.Kalau desain database buruk, aplikasi akan sulit dirawat dan lambat.
FrameworkKerangka kerja yang menyediakan aturan dan struktur coding.Membuat development lebih cepat dan konsisten.
LibraryKumpulan fungsi yang dipakai untuk menyelesaikan tugas tertentu.Memberi fleksibilitas lebih besar dibanding framework.
OpinionatedStack yang sudah menentukan pola kerja dan struktur coding.Bagus untuk menjaga project tetap rapi dan mudah dipahami AI.
RuntimeLingkungan tempat kode dijalankan, misalnya Node.js atau Bun.Berpengaruh ke performa, kompatibilitas, dan deployment.
APIJembatan komunikasi antara frontend dan backend.Tanpa API, data tidak bisa mengalir dengan benar antar bagian aplikasi.
REST APIGaya API yang memakai endpoint dan method seperti GET, POST, PUT, DELETE.Paling umum dipakai untuk aplikasi web modern.
MonolithAplikasi yang backend, frontend, dan fitur utama disatukan dalam satu project besar.Cocok untuk pemula dan tim kecil karena lebih sederhana di awal.
MicroserviceAplikasi dipecah menjadi banyak service kecil yang berdiri sendiri.Cocok untuk sistem besar, tetapi terlalu rumit jika dipakai terlalu cepat.
DeploymentProses memasang aplikasi ke server agar bisa diakses user.Project yang bagus tetap tidak berguna kalau tidak bisa dipasang dengan benar.
Reverse proxyPerantara seperti Nginx yang meneruskan request dari internet ke aplikasi backend.Penting untuk keamanan, routing subdomain, dan stabilitas server.
CachePenyimpanan sementara untuk mempercepat akses data.Mengurangi beban server dan mempercepat respon aplikasi.
QueueSistem antrian untuk pekerjaan yang tidak harus selesai seketika.Cocok untuk email, notifikasi, proses AI, dan task berat.
ORMAlat yang membantu berinteraksi dengan database memakai objek atau model.Memudahkan coding database, tetapi tetap harus paham alur SQL.
SSRServer Side Rendering, yaitu halaman dirender di server sebelum dikirim ke browser.Berguna untuk SEO dan loading awal yang lebih baik.
CSRClient Side Rendering, yaitu halaman dirender di browser.Sering dipakai untuk aplikasi dashboard atau web app interaktif.
StateData sementara yang dipakai frontend untuk menyimpan kondisi tampilan.Kalau state kacau, UI akan mudah error dan sulit dikontrol.
LatencyWaktu jeda antara request dan response.Semakin kecil latency, semakin cepat aplikasi terasa oleh user.
ScalabilityKemampuan sistem untuk tetap stabil saat traffic naik.Penting jika project berkembang dari kecil ke besar.
MaintainabilityKemudahan sistem untuk dirawat, diperbaiki, dan dikembangkan.Ini sering lebih penting daripada sekadar cepat jadi.
DependencyPaket tambahan yang dipakai project, misalnya library atau plugin.Terlalu banyak dependency bisa membuat project berat dan rawan konflik.
Environment VariableVariabel konfigurasi seperti API key, password database, dan URL server.Harus disimpan di file .env agar tidak bocor ke publik.
BoilerplateKode dasar yang berulang dan diperlukan untuk memulai project.AI sering membantu menulis bagian ini dengan cepat.
LoggingPencatatan aktivitas sistem, error, dan proses penting.Penting untuk debugging dan audit saat aplikasi sudah live.
CI/CDProses otomatis untuk testing dan deployment.Mempercepat rilis dan mengurangi human error.

Semoga catatan pengalaman ini bisa bermanfaat ya. Tidak ada salah dan benar, penting kita punya guide, akhirnya punya cara kerja terbaik masing masing. Diskusi bisa dikolom komentar ya.

Happy Vibecoding Guys

Anjrah.

 

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *