Vibecoding Modern, Pakai Tailwind Atau Coding Frontend dari Nol?

Vibecoding Modern, Pakai Tailwind Atau Coding Frontend dari Nol

Ada fase menarik yang sekarang mulai kelihatan di dunia vibecoding.

Banyak orang masuk ke AI coding dengan mindset lama.

Frontend bagus itu dibuat dari nol.

Semua ditulis manual.

  • CSS manual.
  • Spacing manual.
  • Button manual.
  • Sidebar manual.
  • Dark mode manual.

Dan jujur saja, itu memang dulu dianggap skill tinggi.

Continue reading

Dulu Coding Itu Susah. Sekarang Orang Biasa Bisa Membuat Aplikasi Pakai AI

Belajar coding pakai AI untuk pemula memahami JavaScript React Next.js dan vibecoding

Dulu saya selalu mengira dunia coding itu hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Harus lulusan teknik informatika, jago matematika, hafal syntax rumit, dan sanggup menatap layar hitam terminal berjam-jam.

Kalau ada orang berkata ingin membuat aplikasi, bayangan saya langsung menuju perusahaan besar, tim programmer mahal, dan proses coding yang sangat teknis.

Tapi beberapa tahun terakhir semuanya berubah cepat sekali.

Kehadiran AI seperti ChatGPT, Claude, Gemini, Cursor, dan Windsurf mulai membuka dunia software untuk orang biasa.

Bahkan untuk pebisnis, guru, content creator, owner UMKM, marketer, sampai praktisi non teknis sekalipun.Continue reading

Panduan Vibe Coding untuk Pemula: Memilih Frontend, Backend, dan Database Tanpa Bingung Bingung

Panduan Vibe Coding untuk Pemula Memilih Frontend, Backend, dan Database Tanpa Bingung Bingung.webp

Banyak pemula yang mulai coding dengan bantuan AI seperti Windsurf, Cursor, Claude Code, Continue, Cline, atau ChatGPT sering berhenti di titik yang sama.

Bukan karena mereka malas belajar, tetapi karena mereka keburu bingung.

Harus mulai dari mana, stack apa yang dipakai, dan mana yang benar untuk jangka panjang sering terasa seperti pertanyaan yang terlalu besar untuk dijawab di awal.

Masalahnya, dunia coding modern memang penuh pilihan.

Ada React, Next.js, Vue, Angular, Laravel, NestJS, Fastify, Go, Rust, PostgreSQL, MariaDB, MongoDB, Redis, Bun, sampai Hono.

Kalau semua dilihat sekaligus, yang muncul sering bukan kejelasan, melainkan ruwet.

Di titik itu, banyak orang akhirnya ikut tren, ikut influencer, atau ikut perang bahasa pemrograman, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah keputusan yang tenang dan masuk akal.
Continue reading