Cara Install Hermes Agent di Windows Native Tanpa WSL, Berdasarkan Pengalaman Langsung di PC

panduan install ai agent hermes di PC windows

Saya sempat mengira Ai Hermes Agent hanya enak dipakai lewat WSL2 atau Linux.

Ternyata, setelah dicoba pelan pelan di Windows native, Hermes tetap bisa jalan normal di PC atau laptop tanpa harus memindahkan semua workflow ke Ubuntu.

Prosesnya memang tidak mulus sejak awal.

Kadang di windows, ada error dependency Python, ada virtual environment yang rusak, lalu ada juga kebingungan kecil saat menjalankan perintah dari folder yang salah.

Tetapi justru dari situ saya belajar bahwa masalahnya bukan Hermes selalu berat, melainkan setup environment yang belum rapi aja.

Kalau Anda sedang mencari cara install Hermes di Windows untuk dipakai di PC atau laptop sendiri, tulisan ini saya susun dari pengalaman pribadi.

Jadi alurnya saya buat sederhana, praktis, dan tetap relevan untuk orang yang ingin langsung mencoba, bukan sekadar membaca teori.Continue reading

Vibecoding Modern, Pakai Tailwind Atau Coding Frontend dari Nol?

Vibecoding Modern, Pakai Tailwind Atau Coding Frontend dari Nol

Ada fase menarik yang sekarang mulai kelihatan di dunia vibecoding.

Banyak orang masuk ke AI coding dengan mindset lama.

Frontend bagus itu dibuat dari nol.

Semua ditulis manual.

  • CSS manual.
  • Spacing manual.
  • Button manual.
  • Sidebar manual.
  • Dark mode manual.

Dan jujur saja, itu memang dulu dianggap skill tinggi.

Continue reading

AI Tidak Menggantikan Programmer, Tapi Mengubah Cara Mereka Bekerja!

AI Tidak Menggantikan Programmer Tapi Mengubah Cara Mereka Bekerja

Beberapa tahun terakhir, dunia teknologi dipenuhi narasi yang sama.

AI akan menggantikan programmer.

AI akan membuat developer kehilangan pekerjaan.

AI akan menulis semua kode sendiri.

Tapi setelah saya mendengar penjelasan langsung dari engineer Anthropic, Boris Cherny, tentang bagaimana mereka membangun dan menggunakan Claude Code, saya justru menangkap sesuatu yang berbeda.

Masalah utamanya ternyata bukan “AI menggantikan manusia”. Melainkan manusia harus belajar ulang cara bekerja bersama AI.

Dan jujur saja, ini jauh lebih besar daripada sekadar prompt engineering.

Kita sedang masuk ke era baru.

Era ketika software engineer tidak lagi hanya menulis syntax, tetapi mengatur workflow AI, membangun konteks, mengelola memory, serta mendesain lingkungan kerja agar AI bisa menjadi rekan kerja yang efektif.Continue reading

VPS Sering Mati Gara-Gara AI Agent? Ini Cara Menguncinya dengan systemd cgroup

VPS Sering Mati Gara-Gara AI Agent Ini Cara Menguncinya dengan systemd cgroup

Awal Mula VPS Baik-Baik Saja, Sampai Windsurf AI Agent Masuk.

Ceritanya sederhana. Ada sebuah VPS Linux yang sudah berjalan cukup lama melayani beberapa aplikasi web dan riset riset kecil.

Ya mulai dari API backend Node.js, aplikasi PHP, database MariaDB, hingga beberapa bot dan service kecil lainnya. Semua berjalan lancar, stabil, dan tidak ada keluhan berarti. RAM terpakai sekitar 1.5–2 GB dari total yang tersedia, masih ada ruang yang cukup nyaman.

Lalu datanglah si AI Agent.

Tools seperti Windsurf, Cursor, dan sejenisnya memungkinkan developer bekerja langsung dari dalam IDE yang terhubung ke server remote via SSH.

Fiturnya luar biasa dimana AI bisa membaca kode, menulis fungsi, men-debug error, bahkan menjalankan perintah terminal langsung.

Produktivitas naik drastis.

Tapi ada yang aneh.

Tidak lama setelah rutin menggunakan AI Agent yang terhubung ke VPS, server mulai aneh tingkahnya.

Kadang response lambat.

Kadang aplikasi web mendadak tidak bisa diakses.

Beberapa kali bahkan harus login ke panel hosting untuk restart VPS karena sudah tidak responsif sama sekali.

Load average melonjak, dan saat berhasil masuk, RAM sudah penuh hampir 100%.Continue reading

Dulu Coding Itu Susah. Sekarang Orang Biasa Bisa Membuat Aplikasi Pakai AI

Belajar coding pakai AI untuk pemula memahami JavaScript React Next.js dan vibecoding

Dulu saya selalu mengira dunia coding itu hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Harus lulusan teknik informatika, jago matematika, hafal syntax rumit, dan sanggup menatap layar hitam terminal berjam-jam.

Kalau ada orang berkata ingin membuat aplikasi, bayangan saya langsung menuju perusahaan besar, tim programmer mahal, dan proses coding yang sangat teknis.

Tapi beberapa tahun terakhir semuanya berubah cepat sekali.

Kehadiran AI seperti ChatGPT, Claude, Gemini, Cursor, dan Windsurf mulai membuka dunia software untuk orang biasa.

Bahkan untuk pebisnis, guru, content creator, owner UMKM, marketer, sampai praktisi non teknis sekalipun.Continue reading