Kenapa penting kita bahas Cara Membuat PRD Sebelum Vibecoding Coding Pakai AI ?

Banyak orang mulai membuat aplikasi menggunakan AI dengan cara yang sama.

Mereka membuka Cursor, Windsurf, Claude Code, OpenCode, atau GitHub Copilot.

Lalu mengetik satu kalimat sederhana seperti: “Buatkan aplikasi pendaftaran santri” atau “Buatkan aplikasi reminder pelanggan.”

Beberapa menit kemudian AI menghasilkan ribuan baris kode.

Tampak mengesankan.

Namun setelah dicoba, muncul berbagai masalah.

Database berantakan, fitur tidak sesuai kebutuhan, halaman terlalu banyak, dan alur kerja tidak cocok dengan kondisi lapangan.

Masalahnya bukan karena AI bodoh.

Masalahnya karena AI tidak diberi arah yang jelas.

Di sinilah PRD atau Product Requirements Document menjadi penting.

Dalam dunia vibecoding modern, saya lebih suka menyebut PRD sebagai “prompt induk”.

Dokumen inilah yang menjadi sumber semua instruksi sebelum AI mulai menulis kode.

Semakin jelas PRD yang kita buat, semakin kecil kemungkinan AI melenceng dari kebutuhan sebenarnya.

Kenapa AI Tetap Membutuhkan PRD?

Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam dunia AI coding adalah menganggap bahwa semakin pintar AI, semakin sedikit perencanaan yang diperlukan.

Justru yang terjadi kebalikannya.

AI sangat cepat menulis kode. Namun AI tidak otomatis memahami kebutuhan bisnis Anda. AI tidak tahu siapa pengguna aplikasi Anda. AI tidak tahu proses operasional yang terjadi di lapangan. AI hanya menerjemahkan instruksi yang diberikan.

“The hottest new programming language is English.”

Andrej Karpathy, Co-Founder OpenAI

Pernyataan Andrej Karpathy di atas menjadi sangat terkenal ketika tren vibecoding mulai meledak.

Maksudnya sederhana.

Bahasa manusia kini menjadi alat untuk menghasilkan kode.

Masalahnya, kalau instruksi manusia buruk, maka hasil kode yang dihasilkan AI juga akan buruk.

Karena itulah kualitas hasil coding AI sering kali ditentukan oleh kualitas arahan yang diberikan sebelum coding dimulai.

Sejarah Singkat PRD

Jauh sebelum ada AI, dunia software sudah mengenal PRD.

Pada era Waterfall sekitar tahun 1970-an, perusahaan membuat dokumen kebutuhan yang sangat rinci sebelum satu baris kode pun ditulis.

Alasannya sederhana.

Mengubah desain di awal jauh lebih murah daripada memperbaiki sistem yang sudah selesai dibuat.

Memasuki era Agile sekitar awal tahun 2000-an, dokumen yang sebelumnya sangat tebal mulai disederhanakan.

Tim software bergerak lebih cepat dan fokus pada kebutuhan pengguna.

Hari ini, ketika AI coding hadir, PRD kembali menjadi sangat penting.

Bedanya, kita tidak membutuhkan dokumen setebal buku.

Kita hanya membutuhkan dokumen yang cukup jelas untuk membantu AI memahami apa yang harus dibuat.

Tujuan utama PRD bukan menulis dokumen yang panjang.

Tujuan utama PRD adalah memastikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang apa yang akan dibangun.

PRD Adalah Prompt Induk

Kalau Anda seorang vibecoder, lupakan dulu definisi rumit tentang Product Requirements Document.

Bayangkan Anda ingin membangun rumah.

Apakah Anda langsung menyuruh tukang membangun tanpa gambar, tanpa ukuran, dan tanpa daftar kebutuhan?

Tentu tidak.

Anda akan menjelaskan jumlah kamar, ukuran bangunan, kebutuhan listrik, posisi dapur, dan berbagai detail lainnya.

PRD bekerja dengan cara yang sama.

PRD adalah dokumen yang menjelaskan:

  • Masalah yang ingin diselesaikan.
  • Siapa pengguna aplikasi.
  • Fitur yang wajib ada.
  • Fitur yang tidak dibuat.
  • Ukuran keberhasilan proyek.

Setelah itu AI baru mulai bekerja.

PRD Minimal 5 Menit

Cara Membuat PRD Sebelum Vibecoding Coding Pakai AI Ya

Untuk sebagian besar proyek pribadi, sebenarnya Anda tidak perlu membuat PRD yang rumit.

Cukup jawab lima pertanyaan berikut:

  1. Apa masalah yang ingin diselesaikan?
  2. Siapa pengguna utamanya?
  3. Apa fitur wajibnya?
  4. Apa yang tidak dibuat?
  5. Kapan proyek dianggap berhasil?

Kalau lima pertanyaan ini sudah terjawab, Anda sudah memiliki fondasi yang cukup kuat untuk memulai coding menggunakan AI.

Lima menit berpikir sebelum coding sering menghemat puluhan jam revisi setelah coding.

PRD Versi Menengah yang Paling Saya Rekomendasikan

Kalau proyek mulai melibatkan tim atau akan digunakan oleh banyak orang, saya biasanya menambahkan empat bagian lagi.

Alur Pengguna

Tuliskan langkah demi langkah yang dilakukan pengguna.

Halaman yang Dibutuhkan

Daftar seluruh halaman utama aplikasi.

Data yang Disimpan

Daftar informasi yang harus masuk ke database.

Hak Akses

Siapa yang boleh melihat, menambah, mengubah, atau menghapus data.

Pada level ini AI biasanya sudah mampu membuat struktur database, wireframe, dan dashboard dengan jauh lebih akurat.

PRD Versi Profesional

PRD profesional digunakan ketika proyek mulai memiliki risiko tinggi atau melibatkan banyak orang.

Biasanya digunakan jika:

  • Tim lebih dari 3 orang.
  • Ada investor atau stakeholder.
  • Ada kebutuhan audit.
  • Ada regulasi khusus.
  • Sistem dipakai bertahun-tahun.

Pada tahap ini tambahkan:

  • Tujuan bisnis.
  • KPI.
  • User persona.
  • Kebutuhan keamanan.
  • Kebutuhan performa.
  • Prioritas fitur.
  • Roadmap pengembangan.
  • Risiko proyek.

Marty Cagan dalam buku Inspired berkali-kali mengingatkan bahwa risiko terbesar dalam pengembangan produk bukan gagal membuat fitur.

Risiko terbesar adalah berhasil membuat fitur yang sebenarnya tidak dibutuhkan pengguna.

Contoh PRD Pendaftaran Santri Pesantren

Misalnya Anda ingin membuat sistem pendaftaran santri seperti yang pernah saya bangun untuk kebutuhan pesantren.

Nama Proyek:
Sistem Pendaftaran Santri

Masalah:
Data pendaftaran masih tersebar di WhatsApp.

Pengguna:
Calon santri dan admin pesantren.

Fitur Wajib:
- Form pendaftaran online
- Upload berkas
- Status pendaftaran
- Dashboard admin

Tidak Dibuat:
- Mobile app
- Pembayaran online
- Integrasi WhatsApp

Ukuran Sukses:
Seluruh data pendaftar masuk ke satu dashboard.

PRD sederhana seperti ini sudah cukup untuk menghasilkan struktur aplikasi yang jauh lebih baik dibanding sekadar berkata “buat aplikasi pendaftaran santri”.

Contoh PRD Reminder Service AC

Nama Proyek:
Reminder Service AC

Masalah:
Pelanggan lupa jadwal service berikutnya.

Pengguna:
Teknisi dan pelanggan.

Fitur:
- Data pelanggan
- Riwayat service
- Reminder WhatsApp
- Jadwal service

Tidak Dibuat:
- Pembayaran online

Ukuran Sukses:
Reminder terkirim sebelum jadwal service.

Model seperti ini cocok untuk usaha service AC, servis kulkas, servis mesin cuci, hingga maintenance genset.

Contoh PRD Seleksi Calon Karyawan

Nama Proyek:
Seleksi Calon Karyawan

Masalah:
HR kesulitan mengelola ratusan CV.

Pengguna:
HR dan pelamar.

Fitur:
- Upload CV
- Dashboard kandidat
- Status seleksi
- Catatan HR

Tidak Dibuat:
- Video interview

Ukuran Sukses:
Waktu screening kandidat berkurang 50%.

Dengan PRD sederhana ini AI sudah dapat menghasilkan dashboard HR yang cukup baik sebagai pondasi awal.

Cara Memakai PRD di Cursor, Windsurf, Claude Code, dan OpenCode

Kesalahan umum vibecoder adalah langsung meminta AI membuat seluruh aplikasi sekaligus.

Yang lebih efektif adalah menggunakan PRD sebagai sumber instruksi bertahap.

Misalnya:

  1. Minta AI membuat struktur database.
  2. Minta AI membuat wireframe.
  3. Minta AI membuat model dan migration.
  4. Minta AI membuat dashboard admin.
  5. Minta AI membuat fitur laporan.

Semua prompt tersebut mengacu pada PRD yang sama.

Dengan cara ini AI memiliki konteks yang konsisten selama proses pengembangan.

PRD bukan dokumen sekali pakai. PRD adalah kompas yang digunakan selama proyek berjalan.

Kesalahan Umum Vibecoder Saat Membuat Aplikasi dengan AI

Terlalu Cepat Coding

Banyak orang semangat membuat aplikasi tetapi belum benar-benar memahami masalah yang ingin diselesaikan.

Tidak Menentukan Fitur yang Tidak Dibuat

Ini penyebab feature creep yang sangat sering terjadi.

Awalnya ingin membuat aplikasi sederhana.

Tiga hari kemudian berubah menjadi sistem ERP mini.

Tidak Menulis Alur Pengguna

AI akhirnya menebak-nebak perjalanan pengguna dari awal sampai akhir.

Tidak Memecah Pekerjaan Menjadi Tahapan Kecil

Prompt raksasa biasanya menghasilkan kode raksasa yang sulit dipahami.

Menganggap AI Selalu Benar

AI adalah asisten. Bukan CTO. Bukan Product Manager. Bukan pemilik bisnis.

Tanggung jawab arah produk tetap berada di tangan manusia.

Mulailah dari Berpikir, Bukan dari Coding

Semakin lama saya menggunakan berbagai alat AI coding, semakin saya yakin bahwa masalah terbesar vibecoder bukan kemampuan teknis.

Masalah terbesar biasanya adalah kurang jelasnya tujuan yang ingin dicapai.

AI saat ini sudah mampu menghasilkan kode dengan sangat cepat.

Bahkan terkadang terlalu cepat.

Dalam hitungan menit AI dapat membuat puluhan file, database, API, dan dashboard.

Tetapi jika arah proyek tidak jelas, AI hanya akan mempercepat kekacauan.

Karena itu sebelum membuka Cursor, Windsurf, Claude Code, OpenCode, atau alat AI lainnya, biasakan membuat PRD sederhana terlebih dahulu.

Mulailah dari lima pertanyaan dasar.

Setelah itu baru minta AI membantu Anda membangun solusi.

Jangan mulai dari coding. Mulailah dari berpikir. Coding adalah pekerjaan AI. Menentukan arah adalah pekerjaan Anda.

Kalau Anda sedang belajar vibecoding dan ingin memahami cara mengubah ide bisnis menjadi aplikasi yang benar-benar bisa digunakan, insya Allah dalam waktu dekat saya akan membuka sesi belajar vibecoding bersama.

Fokusnya bukan menjadi programmer profesional, tetapi menjadi problem solver yang mampu memanfaatkan AI untuk membangun solusi nyata bagi bisnis dan kehidupan sehari-hari.

Kalau Anda punya pengalaman menarik saat menggunakan Cursor, Claude Code, Windsurf, OpenCode, atau AI coding lainnya, silakan berbagi di kolom komentar.

Saya tertarik mendengar cerita dan pelajaran yang Anda dapatkan di lapangan.

Anjrah.

 

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *