VPS Sering Mati Gara-Gara AI Agent? Ini Cara Menguncinya dengan systemd cgroup

VPS Sering Mati Gara-Gara AI Agent Ini Cara Menguncinya dengan systemd cgroup

Awal Mula VPS Baik-Baik Saja, Sampai Windsurf AI Agent Masuk.

Ceritanya sederhana. Ada sebuah VPS Linux yang sudah berjalan cukup lama melayani beberapa aplikasi web dan riset riset kecil.

Ya mulai dari API backend Node.js, aplikasi PHP, database MariaDB, hingga beberapa bot dan service kecil lainnya. Semua berjalan lancar, stabil, dan tidak ada keluhan berarti. RAM terpakai sekitar 1.5–2 GB dari total yang tersedia, masih ada ruang yang cukup nyaman.

Lalu datanglah si AI Agent.

Tools seperti Windsurf, Cursor, dan sejenisnya memungkinkan developer bekerja langsung dari dalam IDE yang terhubung ke server remote via SSH.

Fiturnya luar biasa dimana AI bisa membaca kode, menulis fungsi, men-debug error, bahkan menjalankan perintah terminal langsung.

Produktivitas naik drastis.

Tapi ada yang aneh.

Tidak lama setelah rutin menggunakan AI Agent yang terhubung ke VPS, server mulai aneh tingkahnya.

Kadang response lambat.

Kadang aplikasi web mendadak tidak bisa diakses.

Beberapa kali bahkan harus login ke panel hosting untuk restart VPS karena sudah tidak responsif sama sekali.

Load average melonjak, dan saat berhasil masuk, RAM sudah penuh hampir 100%.Continue reading

Dulu Coding Itu Susah. Sekarang Orang Biasa Bisa Membuat Aplikasi Pakai AI

Belajar coding pakai AI untuk pemula memahami JavaScript React Next.js dan vibecoding

Dulu saya selalu mengira dunia coding itu hanya untuk orang-orang tertentu saja.

Harus lulusan teknik informatika, jago matematika, hafal syntax rumit, dan sanggup menatap layar hitam terminal berjam-jam.

Kalau ada orang berkata ingin membuat aplikasi, bayangan saya langsung menuju perusahaan besar, tim programmer mahal, dan proses coding yang sangat teknis.

Tapi beberapa tahun terakhir semuanya berubah cepat sekali.

Kehadiran AI seperti ChatGPT, Claude, Gemini, Cursor, dan Windsurf mulai membuka dunia software untuk orang biasa.

Bahkan untuk pebisnis, guru, content creator, owner UMKM, marketer, sampai praktisi non teknis sekalipun.Continue reading

Vibecoding Pemula Pakai Cursor VS Windsurf? OpenCode? Hermes? Codex? Claude?

Vibecoding Pemula Cursor Vs Windsurf ChatGPT, VS Code, Cursor, Claude Code, OpenCode hermes

Ringkasnya, tulisan ini menjawab, kenapa Saya Akhirnya Memilih Windsurf untuk Daily Coding AI Dibanding Cursor, Claude Code, sampai OpenCode

Ya, jelas, dunia AI benar-benar mengubah cara saya belajar teknologi.

Awalnya saya hanya memakai AI seperti ‘kebanyakan orang’.

Bertanya ke ChatGPT, diskusi ide, cari solusi cepat, lalu selesai. Tapi lama-lama saya sadar, AI sekarang bukan cuma mesin tanya jawab.

AI sudah berkembang menjadi alat produksi. Bukan sekadar chatbot.

AI sekarang bisa membantu membuat aplikasi, membangun website, menulis kode, bahkan membantu memikirkan arsitektur software dari nol.

Dari situ saya mulai penasaran.

Kalau AI sudah secanggih ini, bagaimana cara memanfaatkannya untuk coding sehari-hari?

Karena jujur saja, saya bukan programmer murni yang sejak awal hidup di dunia software engineering.Continue reading

Panduan Vibe Coding untuk Pemula: Memilih Frontend, Backend, dan Database Tanpa Bingung Bingung

Panduan Vibe Coding untuk Pemula Memilih Frontend, Backend, dan Database Tanpa Bingung Bingung.webp

Banyak pemula yang mulai coding dengan bantuan AI seperti Windsurf, Cursor, Claude Code, Continue, Cline, atau ChatGPT sering berhenti di titik yang sama.

Bukan karena mereka malas belajar, tetapi karena mereka keburu bingung.

Harus mulai dari mana, stack apa yang dipakai, dan mana yang benar untuk jangka panjang sering terasa seperti pertanyaan yang terlalu besar untuk dijawab di awal.

Masalahnya, dunia coding modern memang penuh pilihan.

Ada React, Next.js, Vue, Angular, Laravel, NestJS, Fastify, Go, Rust, PostgreSQL, MariaDB, MongoDB, Redis, Bun, sampai Hono.

Kalau semua dilihat sekaligus, yang muncul sering bukan kejelasan, melainkan ruwet.

Di titik itu, banyak orang akhirnya ikut tren, ikut influencer, atau ikut perang bahasa pemrograman, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah keputusan yang tenang dan masuk akal.
Continue reading